Telusur Sejarah Ogoh-Ogoh sebagai Manifestasi Seni Rupa Bali dari Sudut Pandang Komodifikasi Budaya

  • Diaz Ramadhansyah Institut Teknologi Bandung
  • Irma Damajanti Institut Teknologi Bandung
Keywords: Bali, Komodifikasi, Ogoh-ogoh, Nyepi

Abstract

Ogoh-ogoh yang selama ini identik sebagai simbol tradisi budaya umat Hindu Bali dalam menyambut Tahun Baru Saka adalah sebuah produk kesenian yang baru lahir pada tahun 1980an. Karya seni ini lahir sebagai wujud kreativitas masyarakat dan berkembang dengan falsafah membersihkan energi negatif menjadi lebih baik sehingga harmonis. Pada perkembangannya, Ogoh-ogoh berkembang dengan falsafah membersihkan energi negatif menjadi lebih baik sehingga harmonis. Pada perkembangan, Ogoh-ogoh berkembang menjadi objek parawisata dan komoditas. Penelitian ini bertujuan melihat bagaimana proses komodifikasi budaya terjadi pada Ogoh-ogoh berdasarkan teori Adorno. Studi kesejarahan menunjukkan hasil bagaimana Ogoh-ogoh mulanya dibuat oleh masing-masing Banjar, lambat laun menjadi komoditas dan dapat diperjualbelikan. Pawai Ogoh-ogoh berkembang menjadi objek pariwisata sebagai tontonan dan sebagai pajangan museum. Salah satu sanggar yang terkenal memproduksi Ogoh-ogoh adalah Sanggar Gases Denpasar, dan salah satu museum Ogoh-ogoh yang ada adalah The Ogoh-ogoh Bali Museum di Denpasar.

Author Biography

Diaz Ramadhansyah, Institut Teknologi Bandung

Diaz Ramadhansyah adalah kurator dan mahasiswa program magister Manajemen Seni dan Kekuratoran, Institut Teknologi Bandung. Ia terlibat dalam Jakarta Biennale 2021, dan mengkuratori pameran bertajuk “Eternal Waiting” oleh seniman berkebangsaan Afghanistan, Nesar Eesar pada Februari 2022. Ia juga menjalankan kelompok inisiatif seni bernama Obah.

References

Budiadnyana, A. (2021). Inilah Alasan Kenapa di Renon tak Ada Ogoh-ogoh. Diakses dari https://balebengong. id/inilah-alasan-kenapa-di-renon-tak-ada-ogoh- ogoh/

Dinas Kebudayaan Kota Denpasar. (2011). Buku Panduan Ogoh-ogoh Pengerupukan. Denpasar: Dinas Kebudayaan Kota Denpasar.

Gunawan, I. W., & Surya Buana, A. A. N. G. (2016). Seni Ogoh - ogoh (Konteks, Teks Dan Efek). Prabangkara: Jurnal Seni Rupa Dan Desain, 19(23), 1. Diakses dari https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/ prabangkara/article/view/132

Indrayana, K. A. (2006). Tesis: Ogoh-ogoh dalam Ritual Nyepi di Bali: Sebuah Kajian Budaya . Denpasar: Program Studi Magister (S2) Kajian Budaya, Universitas Udayana.

Irianto, A.M (2016) Komodifikasi Budaya di Era Ekonomi Global Terhadap Kearifan Lokal: Studi Kasus Eksistensi Industri Pariwisata Dan Kesenian Tradisional Di Jawa Tengah. Jurnal Theologia, 27(1), 213-236.

Nuada, I. K. (2021). Yuk berwisata kemuseum Ogoh-ogoh di Mengwi. Diakses dari https://denpasarnow.com/ yuk-berwisata-ke-museum-ogoh-ogoh-di-mengwi/

Nyoman Widnyani. (2012). Ogoh-ogoh Fungsi dan Peranannya di Masyarakat dalam Mewujudkan Generasi Emas Umat Hindu. Denpasar: Paramita.

Pemerintah Kota Denpasar. (2011). Pemkot Gelar Seminar Pendalaman Filosofi Ogoh-ogoh. Diakses dari https://www.denpasarkota.go.id/berita/ baca/7472

Rahim, A. R., & Madjid, M. S. (2012). Sejarah Indonesia Lama Zaman Purba. Makassar: Rayhan Intermedia.

Ramadhian, N. (2020). Melasti dan Pengerupukan, Upacara Sebelum Melakukan Nyepi. Diakses dari https://travel.kompas.com/ read/2020/03/24/223300227/melasti-dan- pengerupukan-upacara-sebelum-melakukan- nyepi?page=all

Ratnasari, Y. (2021). Makna Ogoh-Ogoh: Arti Tradisi Arti Tradisi Pawai di Perayaan Malam Nyepi di Bali. Diakses dari https://tirto.id/cGhz

Sudrajat. (2012). Sejarah Indonesia Hindu Budha. Universitas Negeri Yogyakarta.

Published
2022-06-29
How to Cite
Ramadhansyah, D., & Damajanti, I. (2022). Telusur Sejarah Ogoh-Ogoh sebagai Manifestasi Seni Rupa Bali dari Sudut Pandang Komodifikasi Budaya. Jurnal Seni Nasional Cikini, 8(1), 33-42. https://doi.org/10.52969/jsnc.v8i1.161