• Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 8 No. 1
    Vol 8 No 1 (2022)

    Seni sebagai sebuah sistem yang holistik, terdiri dari kategori yang beragam. Setiap kategori seni dikonstruksi oleh tanda dan penanda (symbolic signifiers) yang berbeda dan yang membedakan satu dengan lainnya. Apabila kita merujuk pada periode Yunani kuno seorang tokoh di masa tersebut memformulasikan teori Mimesis. Tokoh tersebut yang bernama Aristoteles menyatakan bahwa bentukbentuk seni yang berbeda memiliki perbedaan dalam tiga hal yaitu pertama medianya, objeknya, dan caranya atau moda peniruan yang masing-masing memiliki distinksinya (Sui Yan, 2017). Selanjutnya pendapat sebelumnya seperti yang diutarakan Kenneth J. Fascing dan Nicholas Daniel Hartlep Varner (2015) yang memeriksa diskursus dalam pendidikan seni, mengatakan bahwa dimana ada retorika dalam studi terhadap ekspresi visual yang sudah menjadi sebuah disiplin ilmu bernama semiotics, maka seni sebagai tanda dan penanda dapat berperan membangun sebuah narasi budaya, identitas dan membangkitkan pemaknaan lama dalam tradisi atau melahirkan sebuah pemaknaan baru melalui penciptaan baru. Dengan demikian, karya seni dapat berkaitan dan melekat dengan relasi kuasa yang dapat mempengaruhi dan membangkitkan atau menjadi media perlawanan merepresentasikan berbagai macam ideologi politik. Peran Seni sebagai sebuah tanda dan penanda dengan demikian menjadi sebuah kekuatan yang dapat melahirkan, membangkitkan dan sebaliknya dalam posisi oposisi biner dapat pula menghancurkan cara pandang terhadap sebuah fenomena di tengah masyarakat. Jurnal Seni Nasional CIKINI edisi kali ini mengangkat isu tersebut melalui bahasan-bahasan yang menarik dalam artikel-artikel pilihan sebagai berikut sebagaimana ditulis dalam ulasan Ferdinan Indrajaya yang mengangkat sebuah perspektif filosofis dari Nussbaum bahwa Seni dapat memicu emosi-emosi kemarahan dalam sebuah relasi intim terhadap tragedi sebagai sebuah refleksi atas kemanusiaan terutama yang timbul di era pandemi. Karya tulisan Isye Agustina dan Panji Firman Rahadi dalam artikelnya mengargumentasikan bahwa busana sebagai ekspresi visual merupakan ekspresi makna melalui metafor. Penulis ini melihat bagaimana seni kostum direpresentasikan sebagai tanda dan penanda karakterisasi penokohan preman yang diangkat melalui karya seni film dengan keberpihakan pada nilai-nilai kebebasan berekspresi dan kesetaraan sosial. Lusiana Limono mengeksplorasi hasil penelitiannya terhadap budaya kain Patchwork and Quilts di Malang yang merupakan sebuah practice based research. Hasil kerja penelitiannya menemukan dan mengangkat pandangan bahwa melalui kerja seni kualitas hidup masyarakat dapat meningkat. Korelasi kerja seni tersebut berhubungan dengan budaya perempuan sehingga dapat dilihat bahwa seni sebagai tanda dan penanda menjadi bagian integral dari aktivisme membangun kesetaraan gender melalui budaya seni kriya tekstil. Diaz Ramadhansyah dan Irma Damajanti melakukan penelusuran sejarah ogoh-ogoh dan berargumentasi bahwa seni rupa Bali mengalami proses komodifikasi. Argumentasi ini dibangun penulis dengan menggunakan perspektif Adorno. Dengan demikian menurutnya nampak bahwa telah terjadi pergeseran makna dalam tanda-tanda seni masyarakat tradisi. Nilai-nilai sakral berubah jika tidak dapat dikatakan menghilang, melalui suatu bentuk kreativitas baru yang berkembang bertransformasi menjadi objek komoditas yang mengandung pola-pola nilai ekonomi. Kartika Oktorina penulis lain dalam edisi kali ini membahas seni tanda dan penanda dalam media bahasa rupa menggunakan diskursus semiotika dalam karya tulisnya mengulas Wayang Machine menggunakan pandangan teori semiotika Roland Barthes. Penulis juga menguraikan dalam artikelnya bahwa dengan melihat seni menggunakan kacamata semiotika dari perspektif seorang teoris Semiotika dari Indonesia bernama Wimba yang menggunakan skala ukuran, maka sebuah makna dari konteks konotatifnya dalam Seni Media Baru yang berangkat dari kekhasan kekayaan warisan budaya Indonesia dapat digali secara lebih mendalam. Heri Purwoko yang juga mengangkat isu wayang menelusuri fenomena wayang daun yang merupakan ekspresi budaya urban, sebagai media storytelling. Secara khusus, gejala budaya urban yang disoroti merupakan kerja seni Islami ciptaan Zak Sorga dan artikel ini mengangkat sebuah narasi bagaimana seorang seniman dapat berperan menjadi agen perubahan dan pelestari sekaligus. Argumentasinya adalah bahwa dengan kerja seni sebagai aktivisme lingkungan hidup, maka ada upaya melampaui keterbatasan-keterbatasan sosial untuk menyampaikan kepedulian dan kebertahanan dalam ruang urban di tengah hutan beton perkotaan.

  • Jurnal Seni Nasional Cikini
    Vol 7 No 2 (2021)

    Tema kali ini mengangkat komik. Komik merupakan suatu ekspresi yang mengandung kombinasi ilustrasi teks dan gambar. Ada beberapa pendapat seperti yang disampaikan Jesper dan Sarah Weichman yang melihat bahwa keberadaan ekspresi seperti komik sudah ada semenjak peradaban manusia kuno seperti di zaman Mesir kuno melalui gambar hieroglyph, Mesopotamia melalui tenunan-tenunannya, Mexico pada zaman Maya kuno dan lainnya. (Anne Magnussen, ‎Hans-Christian Christiansen, 2000: 59-60). Pendapat lain mengatakan bahwa komik dalam bentuknya yang kuno tersebut,hieroglyph misalnya, mengandung unsur religi, berhubungan dengan ritual serta merupakan alat membantu ingatan sebagai mnemonic untuk merekam alam pikiran dan kearifan lisan dalam bentuk tulisan yang diyakini merupakan hadiah sakral dari Dewa Thoth sang penyembuh, sang arif, dan penulis para Dewa. Awal mulanya orang Mesir kuno menggunakan hieroglyph untuk akuntansi kemudian alat birokrasi, kemudian berembang menjadi inskripsi yang menghiasi peti mati dan makam dengan visual yang merupakan simbol binatang, burung, dan manusia untuk menghidupkan adegan-adegan tersebut. Gambar ilustrasi kuno yang dilengkapi dengan simbol-simbol phonetic menceritakan suatu narasi budaya pada masanya sehingga menjadi suatu komunikasi untuk generasi di masa depan, seperti kita di saat ini di tahun 2021. Dari narasi dalam ekspresi komik maka kita dapat melihat perubahan sosial dari masa ke masa dan adanya konteks berhubungan dengan historisitas sosial, ekonomi, politik, sastra dan seni. Para penulis dalam edisi ini yang terdiri dari para pakar di bidangnya masing-masing, memaparkan pemikiran-pemikirannya berhubungan dengan komik dengan segala spektrumnya.

    Selamat membaca...

  • Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 7 No 1
    Vol 7 No 1 (2021)

    Tema yang diangkat dalam jurnal edisi Juni 2021 memberi “highlight” soal resiliensi dan bagaimana seni dan senimannya menunjukkan pola-pola resiliensi. Diharapkan bahwa edisi ini ini dapat memberi kontribusi terhadap kontinuitas percakapan mengenai seni dan senimannya, serta berbagi informasi dan juga berperan sebagai suatu advokasi agar seni dapat bertahan, berkelanjutan hidup dan berkembang tangguh dalam situasi dunia saat ini Resiliensi dapat didefinisikan sebagai suatu perkembangan dan proses dinamis yang merefleksikan suatu adaptasi positif meskipun adanya kesulitan kesengsaraan dan kemalangan yang harus dihadapi(Luthar et.al tahun 2000: Master 2001 dalam Luthar 2003). Dalam konteks ini, resiliensi dilihat sebagai suatu fenomena sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam kehidupan seseorang dapat berlangsung baik-baik saja dalam keadaan beresiko meskipun adanya kesulitan-kesulitan yang harus dihadapi dan harus diatasi. Dengan demikian juga dapat dikatakan bahwa resiliensi merujuk pada pola-pola kebertahanan atau yang disebut ciri resiliensi. Menurut beberapa peneliti, seperti Masten & dan Coatsworth tahun 1998 yang dikutip dalam dalam tulisan Masten dan Powell (Luthar et.al 2003), kemampuan tersebut berhubungan dengan kompetensi psikososial yang menonjol dalam performansi seseorang yang terdapat dalam konteks usia, masyarakat, budaya, dan masa historis. Studi-studi resiliensi juga menunjukkan adanya kompetensi kebertahanan terhadap trauma yang terjadi akibat perang, kelaparan, dan bencana. Manusia memiliki kemampuan adaptasi untuk berlindung dari trauma dan dengan menggunakan bingkai resiliensi, memungkinkan kita melihat dan mempromosikan kompetensi yang menonjol yang dimiliki seseorang atau kelompok masyarakat dalam keadaan sulit, agar bermanfaat di masa depan dengan tujuan dapat memperoleh pencapaian-pencapaian baru yang positif.

    Penulis seperti Steven M. Southwick, Dennis & Charney (2018) dalam buku Resilience the Science To Mastering Life's Greatest Challenges mengacu pada lukisan seniman bernama Winslow Homer berjudul The Life Line yang dilukis tahun 1884, memperlihatkan seorang perempuan pingsan yang merupakan korban kapal tenggelam sedang diselamatkan oleh seorang laki-laki yang dengan gagah berani menyelamatkannya di tengah kondisi terpaan badai. Menurut Steven si pelukis Homer menunjukkan melalui ekspresi Karya seninya bahwa adanya selfless heroism di mana tindakannya dan bukan aktornya yang terlihat penting. Memang ada ada orang-orang yang tidak ingin disebut pahlawan dan menganggap tindakan heroiknya itu sebagai bagian dari pekerjaannya bukan mencari pujian untuk dirinya. Sifat resiliensi demikian juga dimiliki oleh kebanyakan manusia yang mampu tetap gagah berani dan kokoh melangkah menghadapi berbagai macam tantangan dan kesulitan.

    Dari masa ke masa seniman telah menunjukkan pola-pola resiliensi dan pada masa penuh ketidakpastian ini, UNESCO bahkan meluncurkan sebuah program ResiliArt yang diharapkan menjadi gerakan global untuk menyatukan semua manusia menghadapi pengaruh pandemi terhadap dunia seni. Tahun 2021 pandemi covid 19 masih berada di tengah masyarakat dunia dan berdampak pada dunia seni dan senimannya sehingga persoalan pola-pola resliensi masih sangat relevan untuk didiskusikan.

     

  • Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 6 No 2
    Vol 6 No 2 (2020)

    Apakah yang paling berkesan bagi kebanyakan orang di tahun 2020? Jawabnya tentulah bahwa di tahun ini kebanyakan dari kita menghadapi suatu kerepotan atas situasi wabah virus Covid-19. Wabah virus yang mengglobal ini merasuk keseluruh bidang kehidupan, sehingga memunculkan tulisan-tulisan yang menyentuh jika membicarakan dimensi-dimensi kemanusiaan dari pandemi tersebut.

    Tak terkecuali di bidang pendidikan situasi yang kurang nyaman menyelinap ke proses ajar-mengajar yang memaksa pelajaran dilakukan secara daring. Selain itu masih ada beberapa protokol kesehatan yang harus dipenuhi. Jurnal Seni Nasional Cikini (JSNC) juga terimbas oleh wabah yang mengglobal ini. Namun kami menolak untuk berhenti terbit. Jurnal yang telah terakreditasi dan terinput dalam website GARUDA ini harus terus dilanjutkan dan ditingkatkan kualitasnya.

    Selamat menyimak dan selamat menyambut tahun baru 2021

    Salam.

  • Jurnal Seni Nasional CIKINI VOL.6
    Vol 6 No 1 (2020)

    Di bulan Juni 2020 ini, Institut Kesenian Jakarta merayakan pesta emas ulang tahun yang ke 50 tahun. Sejak didirikan pada tahun 1970 yang diresmikan oleh Ali Sadikin selaku Gubernur DKI Jakarta dengan nama Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) yang kemudian berubah status menjadi Institut Kesenian Jakarta yang merupakan Perguruan Tinggi Seni tertua di Indonesia, hal ini perlu kita syukuri karena terjadi dinamika yang begitu besar baik dari para Pengelola, Pimpinan, Para Dosen, maupun individu-individu dalam mengembangkan Institut Kesenian Jakarta. Namun pada kenyataannya IKJ saat ini masih dalam proses akreditasi Institut dan dalam waktu dekat menunggu keputusannya. Selain itu, masih ada masalah sentralisasi administratif ke Rektorat serta penyempurnaan terkait Statuta. Di luar itu semua, singkat kata jalur akademik berjalan terus dengan berbagai pengembangannya.

    Sementara di 2 Jalur Dharma yang lain pada Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Penelitian dan Pengabdian Masyarakat masih perlu dikembangkan secara sedemikian rupa, seperti misalnya dari dulu sudah ada rintisan dalam membuat sebuah Jurnal Penelitian maupun kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat tetapi tidak selalu berkelanjutan dan terdokumentasikan dengan baik, beruntung bahwa dalam masa kepimpinan rektorat periode 2016 hingga 2020 ini telah terbit Jurnal Seni Nasional Cikini yang bisa hadir secara berkelanjutan yaitu dua kali terbit dalam 1 tahun sehingga dalam perkembangannya, demi mengikuti dinamika perkembangan zaman, Jurnal Seni Nasional Cikini yang awalnya hanya terbit melalui cetak fisik kemudian juga hadir dengan medium online melalui sistem OJS yang sudah berjalan pada tahun 2019. Sehingga demi keberlangsungan Jurnal Seni Nasional Cikini dalam menghadapi tantangan serba digital, mendapatkan peluang untuk mengikuti percepatan akreditasi Jurnal. Makasekiranya perlu melakukan akreditasi sehingga saat ini Jurnal Cikini resmi terakreditasi dengan peringkat SINTA 5. Peringkat SINTA dimulai dari SINTA 6 dan yang paling tertinggi merupakan SINTA 1.

    Hal ini patut disyukuri karena pada akhirnya memudahkan Jurnal Seni Nasional CIKINI dapat bertukar artikel penelitian melalui Perguruan Tinggi Seni yang lain, dan juga dapat mendorong para dosen IKJ untuk terus melakukan penelitian. Sebab selama ini para dosen IKJ memiliki kecenderungan kuat di dalam penciptaan dan sebagian kecil di bidang kajian. Bahwa yang berkecimpung di dalam bidang penciptaan sebenarnya secara implisit melakukan penelitian demi mewujudkan karyanya maupun kegiatan penelitian atas karya-karya seniman yang lain. Inilah inti dari apa yang disebut dari Penelitian Artistik, yaitu penelitian yang dilakukan oleh sang seniman. Namun masalah selanjutnya adalah disiplin untuk menuliskan proses penelitian oleh para dosen penciptaan. Dapat dikatakan seseorang akan belum memulai menulis sebelum ia mulai menulis. maka untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan perlu disiplin baru

    Berita baik lainnya bahwa dalam 3 tahun terakhir (2017/2020) IKJ PRESS telah menerbitkan 10 buku dalam bidang seni, baik dibiayai sendiri melalui IKJ maupun bekerja sama dengan pihak luar. Ternyata banyak pemikiran selama 50tahun IKJ ini tersebar dalam bentuk dokumentasi baik kliping koran, naskah skripsi, tesis maupun disertasi yang dapat dibukukan. Viva IKJ!

  • Jurnal Seni Nasional CIKINI VOL. 5 No. 2
    Vol 5 No 2 (2019)

    Revolusi industri digital telah merasuk ke semua bidang kehidupan, termasuk bidang kesenian. Semisal ada pergeseran dalam estetika di setiap cabang seni. Dalam hal ini, Institut Kesenian Jakarta sebagai Perguruan Tinggi seni terkemuka di negeri kita ini harus ikut berbenah dalam menghadapi tantangan perkembangan yang pesat dari teknologi.

    Namun dengan adanya kemajuan teknologi atau tidak, seni tak selayaknya harus semata-mata tergantung pada perkembangan teknologi. Dengan kata lain, yang lebih utama adalah kreativitas harus jalan terus. Sehingga misalnya seni – seni tradisional pun bisa diuji ketahanannya dalam menghadapi kemajuan pesat teknologi. Sementara seni murni, katakanlah kreasi sketsa, dapat terus eksis dengan segala kesederhanaannya.

  • Jurnal Seni Nasional CIKINI VOL. 5
    Vol 5 No 1 (2019)

    Jurnal Seni Nasional CIKINI, merupakan kumpulan berbagai topik kajian kesenian yang berisi gagasan, penelitian, ataupun pandangan mengenai perkembangan fenomena dan gejala kesenian serta berbagai permasalahannya. Jurnal ini bertujuan untuk memberikan sumbangan penelitian kesenian, yang diharapkan dapat mendorong perkembangan kesenian di Indonesia ke arah yang lebih baik lagi, dan memiliki daya saing dengan kesenian dunia.

  • Jurnal Seni Nasional CIKINI VOL. 4
    Vol 4 No 4 (2018)

    Jurnal Seni Nasional CIKINI, merupakan kumpulan berbagai topik kajian kesenian yang berisi gagasan, penelitian, ataupun pandangan mengenai perkembangan fenomena dan gejala kesenian serta berbagai permasalahannya. Jurnal ini bertujuan untuk memberikan sumbangan penelitian kesenian, yang diharapkan dapat mendorong perkembangan kesenian di Indonesia ke arah yang lebih baik lagi, dan memiliki daya saing dengan kesenian dunia.

  • Jurnal Seni Nasional CIKINI VOL. 3
    Vol 3 No 3 (2018)

    Jurnal Seni Nasional CIKINI, merupakan kumpulan berbagai topik kajian kesenian yang berisi gagasan, penelitian, ataupun pandangan mengenai perkembangan fenomena dan gejala kesenian serta berbagai permasalahannya. Jurnal ini bertujuan untuk memberikan sumbangan penelitian kesenian, yang diharapkan dapat mendorong perkembangan kesenian di Indonesia ke arah yang lebih baik lagi, dan memiliki daya saing dengan kesenian dunia.

  • Jurnal Seni Nasional CIKINI VOL. 2
    Vol 2 No 2 (2017)

    Jurnal Seni Nasional CIKINI, merupakan kumpulan berbagai topik kajian kesenian yang berisi gagasan, penelitian, ataupun pandangan mengenai perkembangan fenomena dan gejala kesenian serta berbagai permasalahannya. Jurnal ini bertujuan untuk memberikan sumbangan penelitian kesenian, yang diharapkan dapat mendorong perkembangan kesenian di Indonesia ke arah yang lebih baik lagi, dan memiliki daya saing dengan kesenian dunia.

  • Jurnal Seni Nasional CIKINI VOL. 1
    Vol 1 No 1 (2017)

    Jurnal Seni Nasional CIKINI, merupakan kumpulan berbagai topik kajian kesenian yang berisi gagasan, penelitian, ataupun pandangan mengenai perkembangan fenomena dan gejala kesenian serta berbagai permasalahannya. Jurnal ini bertujuan untuk memberikan sumbangan penelitian kesenian, yang diharapkan dapat mendorong perkembangan kesenian di Indonesia ke arah yang lebih baik lagi, dan memiliki daya saing dengan kesenian dunia.